Sesuaidengan buah-buah Roh Kudus maka janji sendiri mencerminkan sifat seseorang yang seperti Tuhan inginkan termasuk jujur dan mau menjalankan janjinya. Apabila memang sulit untuk menepati janji maka sebaiknya lakukan cara berdoa yang benar dan sungguh agar dapat menepatinya. Karena jika tidak maka akan ada konsekuensi yang harus ditanggung.
HukumAir Bekas Wudhu Yang Dipakai Wudhu Lagi. Antara Janji Ke Kakek Dan Perintah Ibu. CARA KONSULTASI SYARIAH ISLAM. JAWABAN SELAMATAN DAN SYUKURAN DALAM ISLAM. 1. Islam membagi aktivitas manusia menjadi 2 kategori. Yaitu, aktifitas ibadah dan aktifitas muamalah (perilaku non-ibadah seperti transaksi dan tradisi).
Bagaimanakita bisa berhenti melakukan dosa? Ada tiga hal yang akan saya jawab dalam pertanyaan ini, yaitu: 1.Mengapa kita selalu berbuat dosa? 2.Mengakui dosa kita tanpa disadari? dan 3.Bagaimana kita bisa berhenti melakukan dosa? Mengapa kita selalu berbuat dosa?
Upayayang bisa Anda lakukan adalah mengajukan gugatan wanprestasi atau ingkar janji ke Pengadilan. salah satu cara memang bisa melaporkan ke polisi, namun sebenarnya ada cara lain yang bisa dilakukan agar pelaporan kita di proses, misalnya meminta SP2HP, melaporkan polisi yang bersangkutan ke Propam/Wasidik, dan sebagainya.
Akibathukum yang timbul bila seseorang ingkar janji yaitu: 1. Debitur diharuskan membayar ganti rugi. 2. Kreditur dapat minta pembatalan perjanjian melalui pengadilan. 3. Kreditur dapat minta pemenuhan perjanjian, atau pemenuhan perjanjian disertai ganti rugi dan pembatalan perjanjian dengan ganti rugi. Bila seseorang dinyatakan wanprestasi
Dá»ch VỄ Há» Trợ Vay Tiá»n Nhanh 1s. Kita mungkin cukup sering mendengar pepatah yang mengatakan bahwa janji adalah hutang. Ternyata, pepatah ini benar-benar menggambarkan pengertian janji itu sendiri. Janji adalah sebuah perkataan atau pengakuan yang bersifat mengikat diri sendiri terhadap sesuatu ketentuan yang dia katakan. Karena sifatnya yang mengikat, janji ini harus ditepati dan agama Islam pun demikian. Janji merupakan sesuatu yang harus ditepati. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, âTanda orang munafik itu ada tiga jika berbicara dusta, jika berjanji dia ingkar, dan jika dipercaya diberi amanat dia berkhianatâ HR. Bukhari Muslim. Maka, dari hadis tersebut, tentu kita tidak mau termasuk ke dalam golongan orang munafik akibat suka ingkar terhadap janji yang jugaPamer dalam IslamJatuh Cinta dalam IslamCara Rasullullah Mendidik Anak PerempuanHukum Poligami Dalam IslamHukum Bertato Dalam IslamKedudukan Janji dalam IslamDari hadis Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di atas, kita bisa mengetahui bahwa janji mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam Islam. Tidak boleh kita seenaknya mengucap janji jika kita tidak merasa yakin bisa menepatinya. Tentang pentingnya menepati janji ini juga ada dalam surat an Nahl ayat 91 dan 92, yang berbunyi,âDan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpahmu itu sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu terhadap sumpah-sumpah itu. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat. Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, kamu menjadikan sumpah perjanjianmu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain. Sesungguhnya Allah hanya mengujimu dengan hal itu. Dan sesungguhnya di hari Kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan ituâ.Dari ayat di atas, kita bisa mengetahui bahwa Islam mewajibkan umatnya untuk selalu menepati janji. Kalaupun misalnya kita melanggar janji tersebut dengan berbagai alasan yang tidak akan diketahui oleh orang lain, Allah Melihat apa yang kita lakukan. Allah Maha Mengetahui segala isi hati kita dan Dia akan meminta kita mempertanggungjawabkan perbuatan itu di akhirat kelak. Tentu kita harus melihat juga apakah isi perjanjian yang kita buat melanggar ajaran agama atau tidak. Baca juga Fungsi AgamaMenurut M. Yunan Nasution, ada beberapa hukum memenuhi janji yaitu sebagai berikutSunnah untuk memenuhinya, jika hal yang diperjanjikan tidak diperintahkan oleh agama dan juga tidak mengandung mudharat tertentu jika ditinggalkan, baik untuk diri sendiri atau orang lain. Misalnya, seseorang berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak lagi makan makanan untuk tidak memenuhinya, jika janji yang dia buat sudah tidak relevan dengan keadaan dan jika meninggalkan janji tersebut lebih besar manfaatnya. Misalnya ketika seseorang berjanji untuk tidak melanjutkan kuliah karena ingin berbisnis saja, namun orang tua lebih meridhai dia untuk kuliah. Jika demikian, dia harus membayar kafarat atas janji atau sumpah yang dia buat dengan berpuasa kafarat 3 hari untuk meninggalkan janjinya, yaitu ketika janji yang dia buat bertentangan dengan ajaran jugaHari yang Dilarang Puasa dalam IslamHukum Menyakiti Hati Wanita Dalam IslamSulam Bibir Menurut IslamCara Menghilangkan Dendam dalam IslamHukum Memelihara Kucing dalam IslamPandangan Islam tentang Ingkar JanjiIngkar janji yang dimaksud di sini adalah ketika seseorang mengingkari janjinya yang tidak bertentangan dengan ajaran agama. Melakukan perbuatan ingkar janji juga bisa berarti orang tersebut berbuat kebohongan kepada orang lain. Bagaimanapun, pihak lain yang mendengar janji kita telah memberi kepercayaan dan berharap untuk kita menepatinya. Maka, ketika kita mengingkari janji tersebut, orang tersebut pasti akan merasa dibohongi dan jugaBahaya Berbohong Dan Hukumnya Dalam IslamHutang Dalam IslamBahaya Berhutang Dalam IslamAlllah subhanahu wa taâala mengutuk keras, melaknat serta akan menimpakan bencana kepada seseorang yang ingkar kepada janjinya sendiri. Bukan hanya janjinya kepada Allah, Allah juga melaknat manusia yang melanggar janjinya terhadap manusia terhadap janjinya sendiri merupakan salah satu sifat orang munafik. Padahal, Allah sangat membenci orang munafik. Hal ini tercermin dalam surat An Nisa ayat 145, Allah berfirman, âSungguh, orang-orang munafik itu ditempatkan pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi merekaâ. Sebagai umat muslim, kita harus beriman pada hari akhir, dimana setelah itu semua manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya selama di dunia. Hal ini termasuk semua janji yang pernah dia buat pun akan dimintai pertanggungjawabannya saat di akhirat kelak. Seperti dalam surat al Israâ ayat 34, Allah berfirman, âDan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik bermanfaat sampai dia dewasa dan penuhilah janji. Sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnyaâ.Baca jugaKeutamaan Menyantuni Anak YatimManfaat Sedekah Anak YatimFadhilah di Bulan MuharramCukup dengan beberapa ayat al Quran di atas, kita bisa mengetahui bahwa ingkar janji bukanlah termasuk ciri-ciri muslim yang bertakwa. Bahkan, Allah subhanahu wa taâala sangat membencinya. Oleh karena itu, hendaknya kita selalu berusaha untuk menepati janji yang pernah kita buat. Karena Allah pasti Menyaksikan semua perjanjian yang kita beberapa manfaat besar bagi manusia yang selalu menepati janjinya, baik manfaat di dunia maupun di akhirat. Manfaat di dunia tentu saja berupa hubungan sosial yang lebih baik, kepercayaan dari orang lain, yang mungkin akan mendatangkan amanah lain dan bermanfaat sebagai ladang pahala kita. Hal ini sudah tercermin pada teladan yang diberikan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dulu saat mendakwahkan ajaran Islam. Pada saat itu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dikenal sebagai sosok yang jujur dan selalu menepati janji. Beliau dan pengikutnya selalu menepati janji, bahkan janji yang dibuat dengan kelompok orang kafir. Pada akhirnya, hal ini menimbulkan kepercayaan dan berbondong-bondonglah orang yang masuk itu, manfaat untuk kehidupan akhirat kita adalah Allah akan menggolongkan kita ke dalam golongan orang yang bertakwa. Dalam al Quran surat Ali Imran ayat 76, Allah berfirman, âSebenarnya barang siapa menepati janji dan bertakwa, maka sungguh, Allah Mencintai orang-orang yang bertakwaâ. Dari ayat tersebut kita bisa mengetahui, jika kita selalu menepati janji kita dan bertakwa pada Allah, Allah akan Mencintai kita sebagai hamba-Nya yang bertakwa. Baca juga Sifat Orang yang BertakwaTidak hanya sebagai usaha kita menggapai ketakwaan pada Allah subhanahu wa taâala, menepati janji juga bisa menjadi penyebab dihapusnya dosa kita dan memasukkan kita ke surga. Hal ini tercermin dalam firman Allah di surat al Baqarah ayat 40, âDan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamuâ. Berdasarkan Ibnu Jarir rahimahullah, janji Allah kepada mereka yang dimaksud adalah Allah akan memasukkan mereka ke surga jika mereka melakukan hal tersebut. Baca juga Wanita yang Dirindukan SurgaDi awal pembahasan kita telah mengetahui bahwa Rasulullah bersabda bahwa ingkar janji merupakan salah satu perilaku orang munafik. Ternyata, tidak hanya itu, orang yang mengingkari janji juga akan mendapat laknat Allah dan malaikat. Dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, âBarang siapa yang tidak menepati janji seorang muslim, maka dia mendapat laknat Allah, malaikat, dan seluruh manusia. Tidak diterima darinya taubat dan tebusanâ HR. Bukhari, 1870, dan Muslim, 1370.Baca jugaSumpah Laknat Dalam IslamSyarat-Syarat TaubatCara Taubat NasuhaTidak hanya hadis di atas, dari Abdullah bin Umar radhiallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, âSungguh, Allah akan tancapkan bendera bagi orang yang berkhianat di hari kiamat. Lalu dikatakan, Ketahuilah, ini adalah pengkhianatan si fulanâ HR. Bukhari no. 6178 dan Muslim Dari hadis tersebut, kita tidak mau bukan, jika dimasukkan ke golongan para pengkhianat di hari kiamat kelak? Kita semua pasti ingin masuk ke dalam golongan orang-orang beriman dan bertakwa di hari akhir jugaDoa Bahagia Dunia AkhiratSukses Dunia Akhirat Menurut IslamDari pembahasan di atas, kita mengetahui bahwa menepati janji adalah hal yang sangat penting dalam agama Islam. Sebaliknya, ingkar janji merupakan perbuatan yang dibenci dan dilaknat oleh Allah subhanahu wa taâala, juga oleh malaikat dan seluruh manusia. Oleh karena itu, sebagai seorang muslim, kita pun harus mengikuti ajaran Islam untuk selalu menepati janji. Jangan pernah membuat janji yang kita tahu atau tidak yakin bisa kita tepati. Karena janji apapun yang kita buat, akan diminta pertanggungjawabannya kelak.
Hukum janji kepada Sang pencipta tapi dilanggar Saya mutakadim berjanji kepada Allah taâala bahwa bukan akan mengulangi hal yang buruk pada diri saya, tapi saya mengingkarinya, dan saya berjanji lain mengulanginya bagi kedua kalinya, karena saya menjadi takut kekurangan kesempatan sehabis kejadiaan itu. Sebagaimana saya telah bertaki kerjakan tidak meninggalkan shalat, tapi lagi sekali lagi saya gagal mematuhinya,karena dirundung terpenggal taksir sehingga saya menjauh dari shalat. Apa syariat janji ini,apakah situasi itu termuat laknat? Jawaban Jika sekedar janji maka tidak tertera sumpah, namun janji harus dipenuhi jika ditinggalkan akan berdosa, karena pada dasarnya melakukan maksiat yaitu dosa, dan tidak menepati janji apapun adalah salah suatu bentuk dari pertanda kemunafikan,Rasulullah shallahu alahi wasallam bersabda âtanda-tanda kepalsuan ada 3 jika berfirman dia berbohong, jika berjanji dia ingkari, seandainya dipercaya ia berkhianat.â [Muttafaqun alahi] Tentunya memenuhi taki Allah terlebih dahulu lebih utama mulai sejak memenuhi taki selainNya, maka kewajiban ia dalam kasus ini ialaha Bertaubat kepada Sang pencipta karena sudah lalu berbuat maksiat dengan melanggar taki, dan anda tak wajib mengupah kafarat. Dan kebaikan buat anda selama ada kemauan cak bagi mematuhi perintah Allah taâala,berpengharapan saja bahwa sira tidak akan kekeringan kesempatan selama sira masih jiwa, bertaubatl dari dosa bagaikan seorang nan tak berdosa, dan pintu taubat masih melenggong, maka jangan terputus asa, karena berputus asa berasal dari setan dan sifat khalayak kafir. Allah taâala bertutur âdan jangan kamu berputus asa dari belas kasih Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa berpokok pemberian Allah,melainkan kaum dahriahâ. {QS. Yusuf 87} âtidak ada khalayak yang berputus sangkil bersumber rahmat Tuhannya,kecuali orang-basyar sesatâ. { 56} Wallahu aâlam Sendang majalah Qiblati edisi 09 masa VIII
Janji menjadi menu pergaulan kita sesama manusia dalam kehidupan sehari-hari. Dan, janji termasuk tipe pekerjaan ringan. Mudah sekali diucapkan. Makanya, sebab ringan berjanji, orang-orang pun jadi ringan pula berjanji. Walaupun ringan diucapkan, bukan berarti setiap janji tidak memiliki konsekuensi. Tabiat janji mesti dipenuhi dan ditepati. Janji Haruskah Ditepati? Lantas, bagaimana pandangan Islam mengenai janji. Di dalam Al-Quran Allah SWT memerintahkan setiapmuslim agar menunaikan janji yang pernah diucapkannya. âDan, tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.â QS. An-Nahl 91. Seruan menepati janji pada ayat tersebut bersifat wajib. Dengan kata lain, orang yang tidak menepati janji tanpa disertai oleh alasan-alasan yang dibolehkan syariat akan mendapatkan dosa. Bahkan, dua dosa. Pertama, dosa terhadap orang yang telah kita berikan sebuah janji yang tidak ditepati. Hatinya akan terluka. Kedua, dosa kita kepada Allah yang menjadi saksi penjanjian antara kita dan orang lain. Orang beriman selalu menepati janji. Karena begitu kharakter seorang muslim yang Allah paparkan di dalam Al-Quran. âBeruntunglah orang-orang beriman, yaitu ⊠orang-orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya.â QS. Al-Mu`minĂ»n 1-6. Sebaliknya, mengingkari janji adalah sifat syaitan. âPadahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka.â QS. An-NisĂą 120. Bahkan, di dalam hadits shahih riwayat Imam Al-Bukhari dari Abdullah bin Amru, Rasulullah SAW bersabda âEmpat hal yang ada dalam diri orang munafik ⊠apabila ia berjanji, maka ia ingkariâ. Janji yang Dosa Ditepati Janji memang harus ditepati. Sudah jelas. Tapi bagaimana, isi janji yang kontradiktif dengan perintah Allah. Apakah janji itu tetap dipenuhi, atau janji itu tidak perlu ditepati? Masalah kontradiktif yang dimaksud adalah bahwa Allah SWT mewajibkan memelihara persaudaraan dan melarang memutuskan tali silaturahmi. Apabila seseorang berjanji tidak menjalin silaturahmi, misalkan ia mengatakan saya tidak akan mengirim SMS lagi ke saudaranya; dia tidak akan pernah lagi saya ajak bicara, dsb., sebagai bentuk keinginan memutuskan persaudaraan. Padahal Allah SWT memerintahkan menjalin persaudaraan. Di dalam sebuah hadits shahih riwayat Imam Al-Bukhari, dari Abu Ayyub Al-AnshĂąri ra. berkata, Rasulullah SAW bersabda âTidak boleh seorang muslim menjauhi saudaranya sesama muslim lebih dari tiga hariâ. Hadits ini memberi tenggat waktu dua orang muslim yang saling berseteru, untuk tidak memperlama perselisihan. Bila keduanya tetap bersikeras melanggengkan permusuhan, kedua-duanya sama-sama memperoleh dosa. Tapi, bila salah seorang telah mendahului menyambung kembali silaturahmi yang terputus, sementara yang lain bersikukuh tidak bersedia menerima uluran silaturahmi itu, maka orang yang berdosa adalah orang yang menolak mengikat persaudaraan. Oleh karena, setiap muslim wajib memelihara persaudaraan. Janji untuk tidak menyapa kepada saudara adalah bentuk janji yang bisa mengakibatkan pemutusan persaudaraan. Perbuatan ini terkategori sebagai perbuaan dosa. Allah SWT tidak pernah menyuruh hamba-Nya untuk melakukan perbuatan dosa. âSesungguhnya Allah tidak pernah menyuruh melakukan perbuatan dosaâ. QS. Al-A`raf 28. Allah SWT memerintahkan manusia melakukan kebajikan dan memperbanyak perbuatan baik. Oleh sebab itulah, seseorang yang berjanji tidak menghubungi saudaranya, baik melalui SMS, atau cara yang lain, adalah janji yang tidak dibenarkan. Dengan sendirinya, janji itu gugur. Dan, tidak perlu dipenuhi. Bahkan, bila memaksakan diri untuk memenuhi perbuatan buruk itu, orang tersebut telah termasuk orang yang memutuskan silaturahmi. WallĂąhu a`lam. Dikutip dari Penulis - Jika artikel ini bermanfaat, silahkan share. Lets change the world together saudaraku !...
Kita mungkin cukup gegares mendengar pepatah yang mengatakan bahwa janji adalah hutang. Ternyata, pepatah ini mendalam mengilustrasikan pengertian taki itu sendiri. Janji ialah sebuah ucapan atau persaksian nan bersifat menghubungkan diri sendiri terhadap sesuatu ganjaran yang dia katakan. Karena sifatnya yang mencantumkan, janji ini harus ditepati dan dipenuhi. Intern agama Selam kembali demikian. Janji merupakan sesuatu yang harus ditepati. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata, âTanda turunan inkonsisten itu ada tiga jika bertutur dusta, jika berjanji dia ingkar, dan jika dipercaya diberi permakluman dia berkhianatâ HR. Bukhari Mukmin. Maka, dari hadis tersebut, tentu kita enggak mau teragendakan ke privat golongan orang munafik akibat gemar ingkar terhadap janji nan dibuat. Kedudukan Janji internal Islam Dari hadis Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di atas, kita boleh memaklumi bahwa ikrar mempunyai kedudukan yang terlampau penting dalam Islam. Tak boleh kita seenaknya mengucap janji seandainya kita tak merasa yakin boleh menepatinya. Tentang pentingnya menepati taki ini juga ada internal sahifah an Nahl ayat 91 dan 92, nan berbunyi, âDan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila beliau bertaki dan janganlah beliau membatalkan sumpah-sumpahmu itu sesudah meneguhkannya, sedang sira mutakadim menjadikan Allah perumpamaan saksimu terhadap sumpah-kutuk itu. Sememangnya Allah mencerna segala nan beliau perbuat. Dan janganlah kamu begitu juga seorang upik yang menjelaskan benangnya yang telah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, ia menjadikan sumpah perjanjianmu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya suatu golongan yang lebih banyak jumlahnya berasal golongan yang tidak. Senyatanya Yang mahakuasa semata-mata mengujimu dengan hal itu. Dan sesungguhnya di hari Yaumul akhir akan dijelaskan-Nya kepadamu segala nan tinggal kamu perselisihkan ituâ. Dari ayat di atas, kita dapat mengetahui bahwa Islam mewajibkan umatnya untuk selalu menepati taki. Kalaupun misalnya kita kejedot janji tersebut dengan berbagai macam alasan yang tidak akan diketahui oleh insan enggak, Halikuljabbar Melihat apa yang kita buat. Almalik Maha Mengetahui segala isi lever kita dan Dia akan meminta kita mempertanggungjawabkan ulah itu di akhirat akan datang. Karuan kita harus melihat juga apakah isi perjanjian yang kita buat menunjang ajaran agama alias bukan. Menurut M. Yunan Nasution, ada sejumlah hukum memenuhi ikrar yaitu sebagai berikut Sunnah cak bagi memenuhinya, jika hal yang diperjanjikan tidak diperintahkan maka dari itu agama dan juga tidak mengandung mudharat tertentu seandainya ditinggalkan, baik cak bagi diri sendiri maupun sosok lain. Misalnya, seseorang berjanji pada dirinya sendiri bikin tidak lagi makan makanan pedas. Sunnah untuk tidak memenuhinya, jika taki yang engkau lakukan sudah bukan relevan dengan keadaan dan jika meninggalkan janji tersebut makin segara manfaatnya. Misalnya ketika seseorang bertaki untuk tak melanjutkan kuliah karena ingin berbisnis belaka, semata-mata orang tua kian meridhai engkau bakal kuliah. Jika demikian, anda harus membayar kafarat atas janji alias kutuk nan dia buat dengan berpuasa kafarat 3 hari berendeng-rendeng. Mesti cak bagi meninggalkan janjinya, yaitu ketika ikrar yang dia bagi bertentangan dengan ramalan agama. Pandangan Islam tentang Ingkar Ikrar Ingkar janji yang dimaksud di sini adalah saat seseorang mengingkari janjinya yang lain bertentangan dengan petunjuk agama. Berbuat perbuatan ingkar janji juga bisa berfaedah orang tersebut berbuat kebohongan kepada orang lain. Bagaimanapun, pihak lain yang mendengar ikrar kita sudah lalu memberi pendamping dan bertarget untuk kita menepatinya. Maka, ketika kita mengingkari janji tersebut, orang tersebut pasti akan merasa dibohongi dan kecewa. Alllah subhanahu wa taâala mengutuk persisten, melaknat serta akan menolakkan bencana kepada seseorang nan ingkar kepada janjinya sendiri. Bukan saja janjinya kepada Sang pencipta, Allah juga menyumpahi manusia yang melanggar janjinya terhadap hamba allah lainnya. Ingkar terhadap janjinya sendiri ialah keseleo satu sifat hamba allah munafik. Padahal, Tuhan sangat membenci individu kepalsuan. Hal ini tercermin dalam surat An Nisa ayat 145, Allah bercakap, âAlangkah, bani adam-orang nifak itu ditempatkan puas panjang yang paling dasar dari neraka. Dan kamu tidak akan mendapat koteng penolong lagi bagi merekaâ. Sebagai umat orang islam, kita harus berkepastian pada musim akhir, dimana setelah itu semua sosok akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya selama di manjapada. Hal ini termasuk semua janji yang koneksi dia untuk pula akan dimintai pertanggungjawabannya saat di alam baka belakang hari. Seperti internal kopi al Israâ ayat 34, Sang pencipta berfirman, âDan janganlah kamu menuju harta anak asuh yatim, kecuali dengan cara yang kian baik bermanfaat setakat dia dewasa dan penuhilah janji. Sepatutnya ada janji itu tentu diminta pertanggungan jawabnyaâ. Patut dengan bilang ayat al Alquran di atas, kita bisa mengetahui bahwa ingkar janji bukanlah termasuk ciri-ciri muslim yang bertakwa. Apalagi, Yang mahakuasa subhanahu wa taâala sangat membencinya. Oleh karena itu, hendaknya kita caruk berusaha untuk menepati janji nan pernah kita untuk. Karena Allah pasti Menyaksikan semua perjanjian yang kita buat. Ada bilang manfaat samudra untuk insan nan burung laut menepati janjinya, baik manfaat di dunia maupun di akhirat. Manfaat di mayapada karuan saja substansial hubungan sosial nan kian baik, kepercayaan dari orang tak, yang barangkali akan mendatangkan amanah lain dan bermanfaat sebagai kebun pahala kita. Situasi ini telah tercermin pada ideal yang diberikan maka itu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dulu saat mendakwahkan ajaran Islam. Pada saat itu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dikenal sebagai sosok yang jujur dan cerbak menepati ikrar. Beliau dan pengikutnya selalu menetapi taki, malah janji yang dibuat dengan kelompok cucu adam kafir. Lega risikonya, peristiwa ini menimbulkan kepercayaan dan berbondong-bondonglah orang yang timbrung Selam. Sedangkan, kebaikan untuk kehidupan akhirat kita adalah Sang pencipta akan menggolongkan kita ke dalam golongan orang yang bertakwa. Dalam al Quran sertifikat Ali Imran ayat 76, Allah mengomong, âSebenarnya sembarang orang memenuhi janji dan bertakwa, maka sungguh, Yang mahakuasa Menyayangi turunan-makhluk yang bertakwaâ.Semenjak ayat tersebut kita bisa mengetahui, jikalau kita selalu menepati taki kita dan bertakwa puas Allah, Almalik akan Memanjakan kita sebagai hamba-Nya nan bertakwa. Tidak hanya bagaikan usaha kita menggapai ketakwaan pada Almalik subhanahu wa taâala, menetapi ikrar juga bisa menjadi penyebab dihapusnya dosa kita dan memasukkan kita ke taman firdaus. Hal ini tercermin kerumahtanggaan firman Almalik di surat al Baqarah ayat 40,âDan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamuâ. Beralaskan Ibnu Jarir rahimahullah, janji Allah kepada mereka nan dimaksud ialah Allah akan mengegolkan mereka ke surga jika mereka melakukan hal tersebut. Di awal pembahasan kita sudah lalu memafhumi bahwa Rasulullah bersabda bahwa ingkar janji merupakan pelecok suatu perilaku insan inkonsisten. Ternyata, bukan semata-mata itu, sosok yang mengingkari janji juga akan mendapat laknat Sang pencipta dan malaikat. Pecah Ali polong Abi Thalib radhiallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, âSiapa saja yang tidak memenuhi janji koteng muslim, maka sira mendapat tulah Halikuljabbar, malaikat, dan seluruh sosok. Bukan diterima darinya taubat dan tebusanâ HR. Bukhari, 1870, dan Muslim, 1370. Tak cuma sabda di atas, dari Abdullah kedelai Umar radhiallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, âSungguh, Almalik akan tancapkan bendera bagi bani adam yang berkhianat di hari kiamat. Lalu dikatakan, Ketahuilah, ini adalah pengkhianatan si fulanâ HR. Bukhari no. 6178 dan Mukminat Dari hadis tersebut, kita tidak mau bukan, kalau dimasukkan ke golongan para pembelot di hari kiamat kelak? Kita semua pasti ingin turut ke internal golongan manusia-cucu adam beriman dan bertakwa di tahun intiha akan datang. Dari pembahasan di atas, kita mencerna bahwa menetapi ikrar adalah hal yang adv amat penting dalam agama Islam. Sebaliknya, ingkar janji adalah perbuatan yang dibenci dan dilaknat maka itu Tuhan subhanahu wa taâala, lagi oleh malaikat dan seluruh bani adam. Maka itu karena itu, sebagai seorang mukminat, kita pun harus mengikuti ajaran Selam cak bagi rajin menepati taki. Jangan pernah mewujudkan janji yang kita sempat maupun tidak optimistis bisa kita tepati. Karena taki apapun nan kita lakukan, akan diminta pertanggungjawabannya besok. Sumber DalamIslam
Kita mungkin cukup sering mendengar pepatah yang mengatakan bahwa janji adalah hutang. Ternyata, pepatah ini benar-benar menggambarkan pengertian janji itu sendiri. Janji adalah sebuah perkataan atau pengakuan yang bersifat mengikat diri sendiri terhadap sesuatu ketentuan yang dia katakan. Karena sifatnya yang mengikat, janji ini harus ditepati dan agama Islam pun demikian. Janji merupakan sesuatu yang harus ditepati. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, âTanda orang munafik itu ada tiga jika berbicara dusta, jika berjanji dia ingkar, dan jika dipercaya diberi amanat dia berkhianatâ HR. Bukhari Muslim. Maka, dari hadis tersebut, tentu kita tidak mau termasuk ke dalam golongan orang munafik akibat suka ingkar terhadap janji yang Janji dalam IslamDari hadis Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di atas, kita bisa mengetahui bahwa janji mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam Islam. Tidak boleh kita seenaknya mengucap janji jika kita tidak merasa yakin bisa menepatinya. Tentang pentingnya menepati janji ini juga ada dalam surat an Nahl ayat 91 dan 92, yang berbunyi,âDan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpahmu itu sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu terhadap sumpah-sumpah itu. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat. Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, kamu menjadikan sumpah perjanjianmu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain. Sesungguhnya Allah hanya mengujimu dengan hal itu. Dan sesungguhnya di hari Kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan ituâ.Dari ayat di atas, kita bisa mengetahui bahwa Islam mewajibkan umatnya untuk selalu menepati janji. Kalaupun misalnya kita melanggar janji tersebut dengan berbagai alasan yang tidak akan diketahui oleh orang lain, Allah Melihat apa yang kita lakukan. Allah Maha Mengetahui segala isi hati kita dan Dia akan meminta kita mempertanggungjawabkan perbuatan itu di akhirat kelak. Tentu kita harus melihat juga apakah isi perjanjian yang kita buat melanggar ajaran agama atau M. Yunan Nasution, ada beberapa hukum memenuhi janji yaitu sebagai berikutSunnah untuk memenuhinya, jika hal yang diperjanjikan tidak diperintahkan oleh agama dan juga tidak mengandung mudharat tertentu jika ditinggalkan, baik untuk diri sendiri atau orang lain. Misalnya, seseorang berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak lagi makan makanan untuk tidak memenuhinya, jika janji yang dia buat sudah tidak relevan dengan keadaan dan jika meninggalkan janji tersebut lebih besar manfaatnya. Misalnya ketika seseorang berjanji untuk tidak melanjutkan kuliah karena ingin berbisnis saja, namun orang tua lebih meridhai dia untuk kuliah. Jika demikian, dia harus membayar kafarat atas janji atau sumpah yang dia buat dengan berpuasa kafarat 3 hari untuk meninggalkan janjinya, yaitu ketika janji yang dia buat bertentangan dengan ajaran Islam tentang Ingkar JanjiIngkar janji yang dimaksud di sini adalah ketika seseorang mengingkari janjinya yang tidak bertentangan dengan ajaran agama. Melakukan perbuatan ingkar janji juga bisa berarti orang tersebut berbuat kebohongan kepada orang lain. Bagaimanapun, pihak lain yang mendengar janji kita telah memberi kepercayaan dan berharap untuk kita menepatinya. Maka, ketika kita mengingkari janji tersebut, orang tersebut pasti akan merasa dibohongi dan subhanahu wa taâala mengutuk keras, melaknat serta akan menimpakan bencana kepada seseorang yang ingkar kepada janjinya sendiri. Bukan hanya janjinya kepada Allah, Allah juga melaknat manusia yang melanggar janjinya terhadap manusia terhadap janjinya sendiri merupakan salah satu sifat orang munafik. Padahal, Allah sangat membenci orang munafik. Hal ini tercermin dalam surat An Nisa ayat 145, Allah berfirman, âSungguh, orang-orang munafik itu ditempatkan pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi merekaâ.Sebagai umat muslim, kita harus beriman pada hari akhir, dimana setelah itu semua manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya selama di dunia. Hal ini termasuk semua janji yang pernah dia buat pun akan dimintai pertanggungjawabannya saat di akhirat kelak. Seperti dalam surat al Israâ ayat 34, Allah berfirman, âDan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik bermanfaat sampai dia dewasa dan penuhilah janji. Sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnyaâ.Cukup dengan beberapa ayat al Quran di atas, kita bisa mengetahui bahwa ingkar janji bukanlah termasuk ciri-ciri muslim yang bertakwa. Bahkan, Allah subhanahu wa taâala sangat membencinya. Oleh karena itu, hendaknya kita selalu berusaha untuk menepati janji yang pernah kita buat. Karena Allah pasti Menyaksikan semua perjanjian yang kita beberapa manfaat besar bagi manusia yang selalu menepati janjinya, baik manfaat di dunia maupun di akhirat. Manfaat di dunia tentu saja berupa hubungan sosial yang lebih baik, kepercayaan dari orang lain, yang mungkin akan mendatangkan amanah lain dan bermanfaat sebagai ladang pahala kita. Hal ini sudah tercermin pada teladan yang diberikan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dulu saat mendakwahkan ajaran Islam. Pada saat itu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dikenal sebagai sosok yang jujur dan selalu menepati janji. Beliau dan pengikutnya selalu menepati janji, bahkan janji yang dibuat dengan kelompok orang kafir. Pada akhirnya, hal ini menimbulkan kepercayaan dan berbondong-bondonglah orang yang masuk itu, manfaat untuk kehidupan akhirat kita adalah Allah akan menggolongkan kita ke dalam golongan orang yang bertakwa. Dalam al Quran surat Ali Imran ayat 76, Allah berfirman, âSebenarnya barang siapa menepati janji dan bertakwa, maka sungguh, Allah Mencintai orang-orang yang bertakwaâ. Dari ayat tersebut kita bisa mengetahui, jika kita selalu menepati janji kita dan bertakwa pada Allah, Allah akan Mencintai kita sebagai hamba-Nya yang hanya sebagai usaha kita menggapai ketakwaan pada Allah subhanahu wa taâala, menepati janji juga bisa menjadi penyebab dihapusnya dosa kita dan memasukkan kita ke surga. Hal ini tercermin dalam firman Allah di surat al Baqarah ayat 40, âDan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamuâ. Berdasarkan Ibnu Jarir rahimahullah, janji Allah kepada mereka yang dimaksud adalah Allah akan memasukkan mereka ke surga jika mereka melakukan hal awal pembahasan kita telah mengetahui bahwa Rasulullah bersabda bahwa ingkar janji merupakan salah satu perilaku orang munafik. Ternyata, tidak hanya itu, orang yang mengingkari janji juga akan mendapat laknat Allah dan malaikat. Dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, âBarang siapa yang tidak menepati janji seorang muslim, maka dia mendapat laknat Allah, malaikat, dan seluruh manusia. Tidak diterima darinya taubat dan tebusanâ HR. Bukhari, 1870, dan Muslim, 1370.Tidak hanya hadis di atas, dari Abdullah bin Umar radhiallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, âSungguh, Allah akan tancapkan bendera bagi orang yang berkhianat di hari kiamat. Lalu dikatakan, Ketahuilah, ini adalah pengkhianatan si fulanâ HR. Bukhari no. 6178 dan Muslim Dari hadis tersebut, kita tidak mau bukan, jika dimasukkan ke golongan para pengkhianat di hari kiamat kelak? Kita semua pasti ingin masuk ke dalam golongan orang-orang beriman dan bertakwa di hari akhir pembahasan di atas, kita mengetahui bahwa menepati janji adalah hal yang sangat penting dalam agama Islam. Sebaliknya, ingkar janji merupakan perbuatan yang dibenci dan dilaknat oleh Allah subhanahu wa taâala, juga oleh malaikat dan seluruh manusia. Oleh karena itu, sebagai seorang muslim, kita pun harus mengikuti ajaran Islam untuk selalu menepati janji. Jangan pernah membuat janji yang kita tahu atau tidak yakin bisa kita tepati. Karena janji apapun yang kita buat, akan diminta pertanggungjawabannya DalamIslam
cara menebus dosa ingkar janji